Pagi ku diawali dengan senyum. Senyumku tambah lebar ketika
aku melihatnya. Iya dia. Tampaknya sesosok yang sederhana. Aku tau namanya,
tapi tak kenal dekat dengannya. Sudah lama aku mengaguminya. Mungkin sejak
kejadian didalam bus kota waktu itu. Seiring jalannya hari hati ku makin ingin
tuk mendekatinya. Tapi apa daya, aku kalah saing dengan yang lain. Dan dalam
hati akupun berkata “Ah! Lupakan dia!”
Siang menjelang sore. Matahari terik sekali. Sampai aku
merasa tak ada awan yang melindungi sinarnya. Jujur aku masih penasaran dan
ingin sekali mengenal sesosok sederhana itu. Dan akhirnya aku memutuskan untuk
bertanya pada temannya. Tersontak aku diam. Ternyata sesosok sederhana yang aku
bayangkan berbeda dengan kenyataannya. Dia adalah sesosok yang gatal. Dan siapa
sangka dia juga seorang Playboy. Sungguh aku terkejut,perasaaan aku kacau pada
saat itu. Aku ingat aku pernah bilang dalam hati “Ah! Lupakan dia!” benar saja.
Perasaan itu mengalir sedikit-sedikit mulai terhapus. Dipertengahan masa
penghapusan aku bertemu sesosok laki-laki ya bisa dibilang ganteng. Berawal
dari chatting facebook, eeh ternyata dia kakak kelasku yang kenal dengan
temanku. Wah! Aku enggak nyangka aja.
Tanpa tersadar,aku dan dia kenal dekat. Kalau boleh aku
menilai dia orangnya perhatian, baik, agak bawel dan kepo! Tapi satu hal yang
mesti aku ingat dikepala aku dia udah dicap sebagai salah satu Playboy
disekolah! Aku enggak boleh tergoda dengan rayuan dia. Dia pernah ngirim sms
tentang anggap anggapan. Aku kan orangnya ya lumayan Jujur. Hehe jadi aku Cuma
bilang aku anggap dia Temen. Enggak lebih mungkin kurang. Aku tanya balik. Eh
dianya buat aku gr dia anggap aku
adik tersayang sama sahabat. Wah ternyata tak tik dia bagus. Tapi sempat
terfikir oleh ku kenapa dia anggap aku sahabat dia? Kenal aja baru 3 hari. Dan
dan dan, aku juga mulai yakin kalau dia Playboy!
Dilidah bisa aja boong. Tapi dihati? Jujur aku suka sama dia. Tapi
enggak mungkin aku bisa miliki dia. Karena dia ada yang punya. Aku bingung
dengan perasaanku. Disatu sisi aku suka sama dia, tapi disatu sisi lain aku tau
dia seorang Playboy. Banyak yang ngelarang aku suka sama dia. Pastinnya orang
yang ngelarang aku tu sayang dengan aku. Mereka enggak mau aku disakiti. Tapi
namanya juga perasaan. Perasaan ini semakin menjadi ketika dia kasih perhatian
lebih sama aku. Inikah rasanya? Aku jatuh Cinta! Sungguh?! Tapi aku sadar,aku
masih terlalu kecil untuk merasakan nikmatnya Dicintai dan mencintai. (˘ʃƪ˘)